Transformation: Konser Tugas Akhir dan Perpisahan Sementara Duo Bajo

Oleh azkamaula,

Konser perpisahan sementara Duo Bajo yang mengundang decak kagum.

BERITA JOGJA – Dalam musik klasik, kata Adorno, filsuf besar Mazhab Frankurt itu, ada dinamika jiwa yang bebas. Dinamika ini luwes menyelami kedalaman perasaan dan mengangkat jiwa. “Prelude BWV” dari Sebastian Bach yang dimainkan Praditya Ratna Murdianta di Museum Tembi, Selasa (21/6) malam lalu menginterpretatifkan makna musik klasik memabukkan dalam benak Adorno.

Jarinya menari memainkan musik klasik meneduhkan gubahan Bach sebagai pembuka konser bertajuk “Transformation. Penonton yang berada dalam ruang yang tak begitu luas itu tampak menikmatinya. Remangnya ruang ditambah renyahnya sound gitar Praditya menambah syahdu suasana. Banyak yang menutup mata lalu seolah melepaskan kegundahan lewat petikan gitarnya. Dua nomor klasik lain, “Caprice No 24” Paganini dan “Jongo” Paulo Bellinati juga dimainkan dengan keanggunan yang sama.

Duo Bajo di konser Transformation (Foto: Azka Maula)

Duo Bajo di konser Transformation (Foto: Azka Maula)

“Saya bersyukur kalau penonton bisa menikmatinya. Ini sebenarnya konser iseng, sekalian sebagai konser tugas akhir saya sebagai mahasiswa ISI. Konsernya dibagi dua sesi, klasik dan bersama grup saya Duo Bajo,” katanya ditemui saat jeda.

Di sesi dua, lampu masih ditemaramkan. Bersama rekannya di Dua Bajo, Braniawan Mesakh Meok, Praditya tampil tak kalah memukau. Memainkan tembang-tembang ritmis ciptaan sendiri, Duo Bajo makin mengudang decak kagum penonton. Terlebih lagi komposisi mereka dimainkan dengan teknik solo gitar yang komplet dan rumit namun dengan notasi yang bersahabat dengan telinga.

Lagu Pop kekinian yang jadi nomor terakhir, “Somebody that I used to Know” Mike Dawes pun dimainkan dengan 21 teknik gitar. “Sudah diukur sebenarnya tadi dengan teknik atau cara bagaimana akan memainkan lagu-lagunya. Tiga lagu yang dimainkan tadi, seperti ‘Cakrawala’ atau ‘Sepeda’ akan jadi materi di album perdana kami. Rencananya tahun ini,” bebernya usai konser.

Duo Bajo sendiri merupakan gitar duo yang sudah akrab dengan panggung event di Jogja. Di antaranya FKY, Festival Musik Tembi, maupun Ngayogjazz. Praditya dan Braniawan juga sempat bermain bersama Jubing Kristianto. Konser Transformation nampaknya sekaligus jadi perpisahan sementara Duo Bajo.  “Habis ini kayaknya enggak dulu deh konser lagi. Mau konsen nyiapin album, soalnya kemarin-kemarin energinya habis untuk menyiapkan konser,” sambung Braniawan.

Ada negosiasi yang cukup alot saat membuat nomor-nomor di album perdana ini, terutama dalam berbagi part aransemen. Braniawan dan Praditya harus legawa ketika negosiasi tak memuaskan salah satu pihak. Situasi ini bisa dipahami mengingat membuat grup dengan duo gitar dengan kekuatan yang sama cukup sulit. Apalagi keduanya dianugerahi teknik gitar tinggi.

“Memang rada alot kalau bagi part. Di bagian ini saya ingin begini, praditya ingin begitu dan pakai teknik ini. Tapi lancar sejauh ini negonya dan kami menikmatinya. Jadi tunggu saja album hasil negosiasi kami nanti,” tegas Braniawan.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar