Keistimewaan Jogja

Bong Suwung: Kisah Tempat Angker di Jogja

Oleh Jatu Raya,

Kawasan Bong Suwun tempat eksekusi mati pemerintah Hindia Belanda dan dianggap sarang penjahat Jogja

BERITA JOGJA – Jogja mengalami perkembangan pesat di awal kekuasaan Orde Baru (Orba). Perkembangan Kota Jogja yang signifikan menarik pendatang mencari peruntungan. Sayang, jumlah angkatan kerja tak sebanding dengan penyedia pekerjaan yang dicari pendatang. Mereka yang putus harapan dan tidak punya hunian tak punya alasan kembali ke kampung halaman lalu menetap di Jogja.

Banyak para pendatang yang tak punya pekerjaan formal dan hunian nekat menempati sisi barat Stasiun Tugu. Mereka mendirikan tempat tinggal semi permanen untuk tempat berteduh sembari bekerja mulai dari berdagang sampai menjalani dunia prostitusi. Tiap hari jumlahnya makin bertambah dan mereka yang menempati kawasan ini dikenal dengan Komunitas Bong Suwung.

Keistimewaan Jogja

Tugu Jogja (Foto:Istimewa)

Bertambahnya kaum miskin kota yang tinggal di Bong Suwung tak bisa dipisahkan dari kondisi belum jelasnya tentang penggunaan tahan di Jogja tahun 70-an. Ima’an Sukri, Cahyadi Djoko Sukmono dkk. di Masa Depan Yogyakarta dalam Bingkai Keistimewaan menuliskan bahwa Komunitas Bong Suwung hidup mengelompok membentuk kerumunan dengan menduduki tanah-tanah terlantar dan tidak terurus di kanan-kiri jalur rel kereta api, di atas tanah-tanah wedi kengser¬† milik negara, atau milik Sultan yang belum difungsikan dan di tanah-tanah yang peruntukannya bukan sebagai tempat tinggal. Peluang ini yang dimanfaatkan para pendatang di Jogja.

Citra Komunitas Bong Suwung di Jogja memburuk di tahun-tahun 80-an. Stretoipe penjahat mulai menempel pada mereka yang tinggal di kawasan ini. Keankeran Bong Suwung yang sempat lenyap usai proklamasi kemerdekaan kembali muncul. Jika pada masa pemerintah kolonial banyak warga takut lewat daerah ini karena takut diganggu hantu korban eksekusi mati pemerintah Hindia Belanda, di tahun 80-an, warga tak berani lewat lantaran takut dirampok.

Streotipe sarang penjahat itu memudar ketika Kopkamtib menggelar aksi pembersihan mereka yang dianggap preman atau gali yang dikenal dengan peristiwa Petrus. Anggota komunitas banyak yang diciduk, dibunuh, lalu mayatnya dipamerkan di tempat umum. Pembersihan ini berlangsung sekitar tahun 1982-1985 dan tidak hanya di Jogja saja namun juga kawasan liar di sejumlah kota lainnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar