Ilustrasi hantu tanpa tubuh (Istimewa)

Teror Hantu Ibu Trinil di Jogja Tahun 80-an

Kisah sandiwara radio ini jauh lebih horor daripada ditinggal nikah pacar yang sudah menjalin hubungan menahun dengan pilihan orang tuanya

BERITA JOGJA – Trinil…Balekno…Balekno Gembungku Hihihihi..

Ilustrasi hantu tanpa tubuh (Istimewa)

Ilustrasi hantu tanpa tubuh (Istimewa)

Bocah-bocah tahun 80-an bakal langsung menutup telinga ketika terdengar suara seram dari radio jelang jam sepuluh malam. Ada yang langsung memeluk orang tuanya yang sedang anteng selonjoran di ruang keluarga. Ada juga yang langsung melempar radio karena saking terkejut ketika frekuensi tak sengaja nyantol di radio swasta yang memutar suara itu.

“Saya sama Kakak dan Ibu mendengarkan sandiwara radio itu di rumah. Tapi lama kelamaan kami tidak bisa tidur setelah mendengarkan sandiwara radio itu. Pernah juga tidur berempat satu ranjang karena takut setelah mendengarkannya,” kenang Dharsono, warga Margorejo Asri Tempel mengisahkan sandiwara terhoror di Jogja tahun 1980-an berjudul “Trinil”.

Sandiwara horor ini memang sangat menakutkan kala itu. Tapi, ceritanya yang mengasyikkan tetap membuat orang-orang waktu itu memberanikan diri menontonnya. “Keluarga kami pernah empat kali ganti radio karena kebanting pas Bapak nyari frekuensi. Kaget sama openingnya. Wong cen seram kok waktu itu tapi rame, bikin penasaran. Bahkan katanya sampai diputar juga di Semarang,” kenang Langgeng Wahyudi, remaja 80-an asal Bangunkerto lalu terkekeh.

Sandiwara Radio “Trinil” susah dilupakan. Kisahnya jauh lebih horor daripada ditinggal nikah pacar yang sudah menjalin hubungan menahun dengan pilihan orang tuanya. Mendengarkan Trinil jauh lebih mendegup jantung daripada menyalami mantan di pernikahannya.

“Trinil” mengambil setting masa kolonial Belanda. Di sebuah Dusun hidup seorang Ibu bernama Suminten dan anak perempuan semata wayangnya bernama Trinil. Mereka berdua sama cantiknya. Ibu dan anak ini sama-sama kesengsem sama pria pendatang bernama Bagus. Trinil yang sudah cinta mati dengan Bagus gelap mata membunuh Ibunya karena menganggap menjadi penghalang cintanya. Kepala Sang Ibu dipenggal lalu dibuang ke sungai sementara tubuhnya dipendam dalam tanah.

Suminten mati penasaran dan jadi hantu kepala tanpa tubuh yang meneror Trinil. Saat meneror Trinil inilah Sang Ibu selalu bilang “Trinil…Balekno…Balekno Gembungku Hihihihi..(Trinil…Kembalikan…Kembalikan Badanku Hihihi) dengan backsound derit pintu dan suara angin. Inilah momen yang selalu sukses bikin para pendengar ketakutan. Mereka juga serasa diteror Hanti Suminten.

“Waaah seru Mbak. Kami dulu ribut nontonnya pas adegan Si Mbok nyari Trinil yang sembunyi. Kami malah jadi sutradara, ngasih tahu kalau Trinil sembunyi di sini, Trinil sembunyi di sana. Kalau sudah begitu pasti dimarahi Bapak, ‘Heh ribut. Kasihan Trinil’ kata Bapak,” sambung Langgeng lalu terkekeh.

Sandiwara radio selama satu jam itu dibilang sangat menuai sukses. Trinil mampu menimbulkan efek psikologis pendengar. Hantu Ibu Trinil pun dijadikan ancamanan bagi Para Ibu yang anaknya kelewat nakal. Kalau tidak mau menurut, Sang anak akan dipanggilkan Ibu trinil. Kabarnya sandiwara radio yang dimainkan salah satu sanggar di Jogja ini juga mampu menaikkan rating radio pemutar dan iklan obat yang jadi sponsor utama.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info