Tiga Poin Penting yang Disampaikan Afi di UGM

Tiga poin keren yang disampaikan Afi Nihaya Faradisa di UGM.

BERITA JOGJA – Remaja keren asal Banyuwangi, Jawa Timur, Afi Nihaya Faradisa yang tulisannya viral di media sosial menjadi pembicara Talkshow Kebangsaan bertajuk “Saya Pancasila Saya Indonesia” di auditorium lantai 4 FISIPOL UGM, Senin (29/5).

Ratusan orang hadir dalam talkshow. Dari kalangan profesor sampai anak sekolah semringah mendengar apa yang disampaikan Afi. Selama talkshow, Afi membicarakan banyak hal. Tiga poin keren dari penyampaiannya tadi pagi adalah sebagai berikut:

Anak Muda Harus Suka Membaca

Anak muda, selain suka main game ponsel pintar juga harus giat membaca. Remaja yang baru saja lulus SMA ini mengisahkan bahwa apa yang dilakukannya di media sosial merupakan hasil pemikiran dari apa dibacanya dan apa yang dilihat di sekitar lingkungannya.

Afi sendiri mengaku cukup heran karena saat ini tak banyak anak muda yang gemar membaca dan menulis. Padahal, menurutnya dengan banyak membaca dan menulis maka akan banyak wawasan yang bisa diserap oleh anak muda.

“Saya enggak tahu kenapa tertarik dengan aktivitas yang oleh sebagian anak muda ditinggalkan. Dari membaca baik lewat buku atau internet saya bisa menulis seperti di medsos saya sekarang ini,” tutur Afi.

Afi (kanan) dalam dialog kebangsaan di UGM, Senin (29/5) pagi (Foto: Cahyo)

Afi (kanan) dalam dialog kebangsaan di UGM, Senin (29/5) pagi (Foto: Cahyo)

Buku Lebih Penting dari Peralatan Make Up

Remaja enggak butuh make up. Buku jauh lebih penting dari peralatan make up yang hanya bisa mengemas fisik seseorang saja sementara keropos di dalam. Afi membuktikan itu semua. Uang sakunya disisihkan untuk belu buku. Berbagai buku dibeli oleh Afi jika merasa tertarik dan menemukan buku yang cocok. “Saya suka buku. Kalau punya uang daripada beli baju atau kosmetik saya lebih memilih beli buku,” ungkap Afi.

Afi menceritakan bahwa meskipun tinggal di kota kecil seperti Banyuwangi, namun beruntung di SD nya dulu memiliki sebuah perpustakaan. Perpustakaan tersebut terbilang cukup komplit isinya.

“Saya membaca buku dari SD di perpustakaan sekolah. Saya beruntung sekolah di perpustakaan yang bisa sewaktu -waktu dimasuki, dan saya banyak menghabiskan waktu disana,” pungkas remaja yang baru saja lulus SMA ini.

Pandangan tentang Indonesia

Persoalan di Indonesia saat ini bisa dibilang kampungan. Masih saja keberagaman dipermasalahkan. Agama, suku, ras, jadi tembok tebal. Ukurannya mata dan identitas. Afi melihat itu semua sebagai kesalahan mendasar sebagian besar orang di Indonesia.

Afi menuturkan bahwa sikap yang benar dalam menyikapi keberagaman di Indonesia adalah dengan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Keberagaman, urai Afi, harus disikapi dengan saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya.

“Di Indonesia yang beragam ini, kita tidak bisa menunjuk orang lain kamu Jawa, kamu Kristen. Tuhanmu tidak benar yang benar adalah Tuhan saya. Tidak bisa seperti itu. Kita bebas menyakini. Tidak perlu menunjukkan, menyodorkan apalagi memaksakan kehendak dan kebenaran menurut kita ke orang lain,” pungkas Afi.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info