Anak Muda Ogah Jadi Petani Cengkeh

Banyak yang mengganggap bertani merepotkan dan menguras tenaga.

BERITA JOGJA – Pilihan menjadi petani cengkeh tak banyak dilirik sebagian besar anak muda di Samigaluh. Para pemuda ini lebih tertarik untuk mencari pekerjaan di luar Samigaluh dibandingkan menjadi petani cengkeh.

Yoga Noviantoro (29) warga Kayugede, Samigaluh contohnya. Ia lebih memilih mencari pekerjaan lain daripada menjadi petani cengkeh (Baca: Pahit Manis Nasib Petani Cengkeh di Bukit Menoreh). Padahal, Yoga memiliki pohon cengkeh yang cukup banyak.

“Saya juga punya pohon cengkeh di kebun. Kalau 50 buah pohon juga ada. Tetapi saya tidak tertarik menjadi petani cengkeh. Saya lebih tertarik menekuni pekerjaan menjadi pemborong. Soalnya menjadi petani cengkeh repot. Meskipun hasilnya lumayan, sekali panen bisa sampai Rp 40 hingga 50 juta, tetapi untuk memeliharanya repot,” terang Yoga.

Cengkeh di Samigaluh (Foto: Cahyo)

Cengkeh di Samigaluh (Foto: Cahyo)

Yoga mencontohkan bahwa waktu panen perdana pohon cengkeh yang lama menjadi permasalahan. Pohon cengkeh, tutur Yoga, baru bisa panen mulai stabil di tahun ke 10. Sedangkan mulai berbuah pertama pada tahun kelima dengan jumlah cengkeh yang berjumlah hanya ons.

“Belum lagi saat menanam, pohon cengkeh membutuhkan air yang cukup. Medan di Samigaluh, naik turun, kalau memelihara cengkeh yang baru ditanam repot. Harus naik turun bawa air untuk menyiram tanaman. Selain itu pohon cengkeh juga harus terkena panas matahari dari ujung daun hingga ujung batangnya. Kalau tidak, nanti tidak mau berbunga. Sehingga bisa diselingi tanaman lainnya dan kalau maksimal kebun cengkeh harus benar-benar hanya berisi cengkeh tidak boleh ada pohon jenis lainnya,” ungkap Yoga.

Sependapat dengan Yoga, Imam Moeslim (26) juga mengaku tak tertarik menjadi petani cengkeh. Imam lebih memilih berdagang dibandingkan meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai petani cengkeh.

“Sejak kecil saya tidak tertarik menjadi petani. Menjadi petani pekerjaannya repot. Apalagi menjadi petani cengkeh. Setiap hari harus ke kebun untuk mengecek cengkeh. Harus memupuk dan menjaga kebun supaya tidak kena hama. Kalau pohon masih berukuran kecil biasanya kena hama kayak kupu-kupu. Kalau agak besar, pohom cengkeh rentan kena ulat yang melubangi pohon dan kalau kena itu sudah pasti mati pohonnya. Penuh resiko menjadi petani. Sekali pohonnya mati, harus nunggu puluhan tahun supaya pohon penggantinya bisa panen,” pungkas Imam.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info