Sada Jiwa: Menghidupkan Kembali Kisah Tokoh Pers Indonesia

Ruang apresiasi ini bertujuan memperkenalkan lalu menghidupkan kembali kisah-kisah dari tokoh pers Indonesia agar tetap dapat dikenal dan lebih dihargai selamanya.

BERITA JOGJA –¬†Kumpulan mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Brawijaya menggelar Ruang Pamer bertajuk “Sada Jiwa: Eksebisi dan Apresiasi untuk Tokoh Pers” 8-11 April 2017 di Galeri Raos, Kota Batu, Jawa Timur. Ini adalah ruang pamer kedua setelah 25-26 Maret 2017 lalu di Dongeng Kopi Jogja.

Ruang apresiasi ini bertujuan memperkenalkan lalu menghidupkan kembali kisah-kisah dari tokoh pers Indonesia agar tetap dapat dikenal dan lebih dihargai selamanya. Mereka adalah Adinegoro, Mochtar Lubis, Agus Salim, P.K. Ojong, Jakob Oetama, Rosihan Anwar, Goenawan Muhammad, H. Misbach, dan Tirto Adhi Soerjo.

Dalam rilis disebutkan bahwa ruang apresiasi akan menampilkan teater, puisi, dongeng, dan art exhibition. Ragam aktivitas itu menyatu dan lalu menghadirkan pertunjukan yang dapat menggambarkan sebuah kisah-kisah dari para tokoh pers. Teater ini dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran, simpati para pengunjung tentang pentingnya perjuangan tokoh pers. Teeater juga bisa dapat membangun nuansa yang damai.

@sadajiwaevent

@sadajiwaevent

“Puisi dimaksudkan untuk menyampaikan pemikiran tokoh pers agar dapat menyadarkan pengunjung. Lalu, ada dongeng bertujuan untuk menceritakan kisah dari tokoh pers yang menceritakan kisah dari para tokoh pers yang dikemas secara menarik dan menghibur untuk didengar. Kemudian ada Art Exibition yang menampilkan karya-karya yang dimiliki oleh para tokoh pers dan diwakili oleh para seniman mahasiswa Universitas Brawijaya,” beber Muhammad Rizki Akbar Ketua Pelaksana Sada Jiwa.

Ruang Apresiasi dibuka Dr.Antoni selaku dosen pembimbing mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya. Apresiasi tokoh pers dihadirkan lewat puisi oleh tim Mata Pena, kelompok Celoteh sebagai pengisi penampilan teater, grup musik Fletch, dan seniman lainnya yang ikut berpatisipasi dalam acara ini.

Karya rupa lukisan dibuat para seniman mahasiswa Universitas Brawijaya. Vadilla M.Widyananda bekerjasama dengan Yawara dan Roudlo dengan karya “Tak Terlupakan” yang mendeskripsikan kisah Tirto Adhi Soerjo dalam perjalanannya memperjuangkan pers Indonesia dengan surat kabar yang Ia terbitkan. Berikutnya Muizuddin Nurazmi bekerja sama dengan Chusnul Khasanah dengan judul “Imagination to Dream”. Karya ini mendeskripsikan penggambaran diri Goenawan Muhammad.

Tiwi Maryani bersama Alfi Anto R menghadirkan sosok dan kepribadian PK Ojong dalam karya berjudul “Sederhana”. Adhip Prana bekerjasama dengan Afif Musthapa dengan “Harusnya Gitu”.mendeskripsikan surat wasiat Mochtar Lubis kepada pers saat ini: menjunjung tinggi kebenaran tanpa pandang bulu dan tidak membolak- balikan fakta demi kepentingan pribadi. Kemudian Luthfi Nurhazami bekerja sama dengan Muhammad Lutfie Anan dengan karya yang berjudul “No Aesthetic Today” menyampaikan pandangan realitas H. Misbach terhadap negara yang dewasa ini yang cenderung mengintimidasi rakyat dengan kebijakan.

Lalu, Reinardus Reski bekerja sama dengan Ahmad Kholili dengan “Agus Salim”. Karya mereka menonjolkan sosok Agus Salim yang penuh wibawa, keras, dan pekerja keras. Dimas Adrian bekerjasama dengan Hevidz Hadid Aqvaz dengan karya yang berjudul “No Angel in The World” mendeskripsikan sikap Jakoeb Oetama tentang membangun sesuatu hal membutuhkan sebuah usaha dan kerja keras, di mana konsistensi menjadi salah satu kuncinya dalam menghadapi arus kencang yang datang.

Ramzi Chalid bekerja sama dengan Figo Dimas Saputra dengan karya yang berjudul “Pertanda Merah” yang coba memperlihatkan keyakinan Rosihan Anwar bahwa uang bukanlah segalanya. Wartawan harus berjarak dengan penguasa agar tulisan yang diciptakan bisa objektif sesuai fakta yang ada, bukan malah dibuat-buat untuk kepentingan pribadi. Terakhir, Muhammad Rizki Akbar bekerja sama dengan Alvi Abdurrakhman melahirkan karya berjudul “Harapan Untuk Tumbuh” yang mengisahkan tokoh pers Adinegoro sebagai pengingat yang mendambakan semangat juang nasionalisme dalam penyebaran media informasi dan edukasi melalui pers.

“Mengapa kami memilih untuk bekerjasama dengan seniman mahasiswa karena ingin memberi ruang ekspresi pada para mahasiswa yang memiliki minat dan potensi di bidang seni rupa dengan memberikan kesempatan untuk menunjukan gagasan, nalar, dan visual,” sambung Akbar.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info