Q and A Tiger Paw Tentang Album dan Pilihan Musik

Brande, John, Farid Silol, dan Epan buka-bukaan tentang proses pembuatan album rock rumit dan menggelegar yang bakal rilis 10 Maret 2017 ini.

BERITA JOGJA – Band Speed Rock asal Jogja bakal meluncurkan mini album di Hardcase Cafe Jumat (10/3) lusa. Sebelum memamerkan karya mereka dalam pelucuran album di panggung Hardcase, Brande, John, Farid Silol, dan Epan buka-bukaan tentang proses pembuatan album rock rumit dan menggelegar ini.

 

Aksi panggung Tiger Paw (Foto: Alan Musyfia)

Aksi panggung Tiger Paw (Foto: Alan Musyfia)

Akhir tahun 2016 teman-teman ngasih pengumuman kalau mau meluncurkan album Januari. Kenapa bisa molor sampai Maret? Ada kendala?

Brande: Sebenarnya ketika launching pada bulan Januari tetap bisa dilakukan, karena di pertengahan Januari hampir semua materi EP rampung di garap, namun di pertengahan bulan Januari tiba-tiba Tiger Paw tertarik untuk megikuti sebuah ajang musik rock nasional dari sebuah brand rokok.  Tiger Paw tidak mengincar juara atau apapun, Tiger Paw hanya ingin unjuk gigi mengingat umur band ini sebulan saja belum ada hahaha..

setelah itu di bulan Februari setelah semua materi rampung bahkan mixing mastering skalipun tiba-tiba ada ajakan pembuatan video clip dari kameramen band sisi tipsi dan indische party, lalu Tiger Paw mengiyakan dan proses launching mundur lagi, setelah selesai take video clip ternyata ada saah satu personil mengundurkan diri, lagi-lagi proses launching mundur lagi dan akhirnya setelah mendapat back up player, diputuskan awal maret menjadi saksi peluncuran EP pertama kami.

Memangnya serumit apa sih musik Tiger Paw? Dari skala 1-10 deh, serumit apa?

John: 1, karena tidak ada hal yang rumit jika kita mau mencoba dan terus belajar dan memang Tiger Paw memberikan skor 1 agar Tiger Paw semangat belajar dan terus belajar.

Selama proses bikin album ini, kendala teknis apa yang bikin pusing?

Dalam pengkaryaan menjadi masalah hampir setiap band, BIAYA!!! Hahaha, sedangkan dari Materi karena hampir tiap hari kita mengulik jadi bisa dibilang aman, karena di awal memang tekad kita awal tahun band ini harus sudah keluar dengan materi sendiri

Tiap personel di Tiger Paw datang dari pengalaman bermusik yang berbeda. Pendewasaan seperti apa yang dibawa ke Tiger Paw?

Brande : saya sama sekali awam dari dunia musik. Latar belakang saya hanya suka teriak teriak. Sebelumnya saya pernah berada di band garage rock dan itu adalah band pertama saya bersama teman-teman saya. Setelah saya memiliki band saya sangat suka sekali melihat gigs di mana ada band yang memainkan musik kencang dan melihat para penonton moshing dan head bang, namun saya tetap bingung musik apa yang harus saya mainkan. Di tahun 2016 saya mengenal band Skullfist dan dari band itu sangat mengispirasi saya dari musik apalagi karakter vocal, saya mendambakan band seperti itu dan ini saya temukan di Tiger Paw

John : musik tidak ada batasnya dan saya sangat menyukai memainkan musik cadas dan bersemangat khususnya Heavy Metal, dan ini menjadi salah satu semangat saya juga

Farid Silol: di Tiger Paw lebih santai yang jelas dalam bermain gitar, tapi seru karena terbiasa bermain di death metal di treatment dengan riffs gelap dan agresif terus sambil bernyanyi, kalau di starless main musik kompleks dan bkin pusing dalam pembuatan lagunya banyak ini itu, jadi Tiger Paw buat saku pribadi semacam refresh dalam band yang lain dengan musik simple dan easy listening tapi tetap gahar.

Poster mini konser Tiger Paw

Poster mini konser Tiger Paw

Epan muzaki: Awal mula ngerti musik yang begituan dari Pakde saya. Pertama kali tahu band Deep Purple sama Guns n’Roses, tapi yang paling pengaruh adalah band lokal yang bernama AKA (pshycedelic rock). Karakter vokalnya yang berantakan yang akhirnya akan membawa saya ke musik Punk rock. Aku juga denger The Clash, Sex Pistols, The Ramones, The Dead Boys, The Stooges, The Murder Junkies.

Lalu aku baca majalah Thrasher Magazine nemu band yang lebih gila lagi kaya The Cramps dengan dandanan rambut gondrong berantakan, pakek maskara, pakai eyeliner, dan lipstik, ada juga Siouxsie and the Bamshees,  terus akhirnya nemu lagi band the New York Dolls dengan fashion unik yang akhirnya kenal sama Glam Rock.

Aku juga denger David Bowie sampai kemudian nemu lagi band pretty boys floyd, personilnya cantik cantik, fashion fenism, jadi suka dan dengerin, twited sister, quiet riot, dokken, wasp, steel panther, girlschoool, acid, loudnes, warlord, tokyo bleed, sama metal lucifer, suka juga sama band band lainnya yang memengaruhi cara bermusikku.

Oke, buat memfasilitasi kehendak dan konsep dalam Tiger Paw, Gear apa sih yang dipakai pas manggung dan rekaman?

John : Gitar Jackson seru Rendyroad Custom di salah satu tempat custom gitar yang sangat gahar di Jogja. Kalau distorsi pakai Marshal Jackhammer, Overdrive seadanya, dan Equalizer Behringer gak neko-neko kalau saya yang penting lancar gak mati-mati.

Farid Silol: Gitar Flyng V keluaran Rockwell 2007. Efek makai Boss MT-2

Epan muzaki: Gear yang aku pakai double pedal tama iron cobra r900, snare pearl steel sheel, sabian cymbals, stick pro mark milenium II size 5b dan kalo drum aku lebih suka pakai Pearl terutama yang signature series Joy Jordison.

Memilih bermusik rock ditengah industri yang banal seperti ini, Tiger Paw yakin ngga musiknya bakal bertahan lama

Brande: Tiger Paw lahir di era musik pop ada di mana mana, khususnya Jogja dan Tiger Paw adalah sebuah kesamaan ego yang ada pada dalam diri masing-masing personil, di mana keliaran ,kebringasan, kegaharan semua menjadi satu dengan bayang- bayang musik lawas menjadi dambaan setiap personil, terciptalah jati diri Tiger Paw. Kami rasa dengan dasar dan keinginan yang sama ini Tiger Paw akan selalu ada, dan kami akan menghidupkan musik kencang lagi di Jogja. Semoga Tuhan selalu menyertai kami.

 

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info