Salah satu karya instalasi Ouda Teda Ena di lampu merah Jogja (Foto: Dokumen Indonesian Visual Art Archive)

Peristiwa Penting Seni Rupa Jogja Awal 2000an

Peristiwa yang terjadi di Jogja tahun 2000-an awal muncul merespon isu-isu besar seperti realitas sosial, kebijakan politik, dan ekonomi.

BERITA JOGJA -Tahun 2000-an seni rupa di Jogja cukup mapan. Jogja tak lagi medan perang antarkomunitas atau gerakan yang punya pandangan seni saling berseberangan. Peristiwa yang terjadi di Jogja tahun 2000-an awal muncul merespon isu-isu besar seperti realitas sosial, kebijakan politik, dan ekonomi.

Usai Orba tumbang, Jogja perlahan menjadi kota industri. Perkembangannya tak lagi merayap. Sembilan Mall direncanakan berdiri kala itu. Kesenjangan kota dan desa makin terlihat. Para seniman Jogja tak buta. Sekali lagi butuh perlawanan lewat seni. Perlawanan dan gerakkan di era milenial dibuka dengan Pameran bertajuk “Menakut-nakuti Orang Kota” pada Juni 2000. Selama satu minggu, perupa Ouda Teda Ena menghadirkan 27 memedi manuk atau orang-orangan sawah yang biasanya berfungsi sebagai pengusir burung di 27 lampu merah di seputar kota Jogja.

Salah satu karya instalasi Ouda Teda Ena di lampu merah Jogja (Foto: Dokumen Indonesian Visual Art Archive)

Salah satu karya instalasi Ouda Teda Ena di lampu merah Jogja (Foto: Dokumen Indonesian Visual Art Archive)

Dalam pers rilis yang diunduh dari web Indonesian Visual Art Archive tertuliskan bahwa pameran ini adalah upaya simbolis untuk penyadaran masyarakat kota tentang masyarakat desa khususnya petani.

“Ada ketimpangan hubungan antara dua masyarakat ini, maka dari itu upaya penyadaran kudu dilakukan. Masyarakat kota menjadi kompetitif dan meninggalkan harmoni, sementara masyarakat desa mengedepankan harmoni tapi menjadi korban kompetisi. Petani contohnya jadi korban kemajuan yang sebenarnya bukan milik mereka,” tulisnya.

Keberpihakan Ouda Teda Ena terhadap petani diungkapkan melalui karya instalasi untuk penyadaran masyarakat kota meminggirkan petani. Ouda sengaja memakai memedi karena punya makna simbolis yang dalam: simbol pengusiran, bukan pembunuhan. Lampu merah dipilih karena di tempat inilah orang-orang kota yang sedang sibuk mobile dijalanan berhenti sejenak dan mendapatkan waktu barang sejenak untuk berpikir

Dua tahun berselang muncul gerakkan komik bawah tanah Jogja. Diinisiasi The Daging Tumbuh lewat pameran komik “Jangan Ada Ganteng di Antara Kita” di Kedai Kebun Forum pada Februari 2004, oameran ini menandai kebangkitan kembali komik Indonesia yang sejak 1980-an merangkak di bawah dominasi komik asing.

Dalam proses produksi komik ini, terbuka bagi siapa pun yang ingin mengirimkan naskah baik berupa gambar (lukisan, grafis, komik), teks (puisi, cerpen, dan karya sastra lainnya), hingga iklan. Tidak ada pengeditan maupun sensor. Penyebarannya pun tidak harus membeli dari distributor resmi yang hanya menyediakan 150 eksemplar saja. penerbit malah mempersilakan setiap orang untuk membajak komik ini dengan memfotokopinya agar setiap orang bisa menikmatinya,

Dengan frekuensi yang terbit setiap enam bulan sekali, banyak penggemar setia yang menantikan edisi terbaru yang muncul di bulan Desember dan Juni, terutama bonus–bonusnya.

Di bulan Oktober, berlangsung aksi seni rupa publik di berbagai tempat. Proyek bernama DSADM ini digelar merespon kontroversi pembangunan mall di Jogja. Para seniman yang terlibat membuat instalasi di Alun-Alun Kraton Jogja dan di boulevard UGM.

Seniman, sebagaimana dituliskan Rakai Badrika dalam tulisan berjudul “Daerah Istimewa Ngeyel Yogyakarta” di “Membaca Arsip Membongkar Serpihan Friksi, Ideologi, Kontestasi: Seni Rupa Yogyakarta 1990-2010”  menilai, rencana pembangunan sembilan mall di Jogja kala itu, adalah wujud dari arogansi ekonomi yang dapat menciptakan masyarakat konsumtif, ketegangan nilai budaya dan sosial, juga penghancuran pusaka dan budaya.

Aksi ini dilakukan dengan strategi estetik dan artistik, serta eufemistik (halus). Tiap karya diharapkan dapat dinikmati oleh masyarakat umum sekaligus menjadi terapi kejut pemerintah kota, investor, developer, pengusaha, arsitek, pemerhati dan pekerja lingkungan, budayawan, seniman, juga masyarakat luas, agar bersungguh–sungguh mengelola kota Jogja.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info