Pameran Binal Eksperimental Arts 1992 (Foto: Dokumentasi ivaa-online.org)

Peristiwa Penting Seni Rupa Jogja Tahun 90an

Oleh Jatu Raya,

Peristiwa penting seni rupa Jogja tahun 90an lahir dengan semangat perlawanan.

BERITA JOGJA – Tahun 90-an, seni rupa Jogja makin menghangat (Baca: Peristiwa Penting Seni Rupa Jogja 140-1960an dan Peristiwa Penting Seni Rupa Jogja 1970an). Beberapa peristiwa penting seni rupa Jogja terjadi dan memberi pengaruh seni rupa Jogja kekinian. Sejumlah peristiwa tahun 90-an terjadi dengan semangat perlawanan. Berikut beberapa peristiwa penting seni rupa Jogja tahun 90an yang lahir dengan semangat itu.

Pameran Binal Eksperimental Arts 1992 (Foto: Dokumentasi ivaa-online.org)

Pameran Binal Eksperimental Arts 1992 (Foto: Dokumentasi ivaa-online.org)

1992

Peristiwa penting seni rupa di Jogka tahun 90-an dibuka dengan gerakkan Binal yang muncul 1992. Gerakkan Eksperimental Art ini muncul untuk menandingi pameran Bienalle yang masa itu dianggap mononton dan tertutup. Dari data yang tertulis dalam tulisan Raka,  masa itu Biennale dan secara umum dunia seni rupa Indonesia dirasa telah terjebak dalam karya seni yang patuh dan normatif. Kreativitas berhenti di karya seni tinggi saja: lukisan dengan media cat dan kanvas dan kurang mengeksplorasi material seni rupa yang lainnya.

Pandangan itu meluncur usai mengamati persyaratan seleksi karya dalam Bienalle III, yaitu (1) Para  peserta harus lolos dua tahap seleksi dari panitia Biennale, (2) Peserta adalah pelukis profesional yang berumur minimal genap 35 tahun pada 1 Juli 1992, (3) Peserta menyerahkan karya lukisan dua dimensi dan bukan media batik. Gerakkan ini menganggao Persyaratan itu menunjukan adanya kecenderungan kategori seni resmi dan “seni tidak resmi” yang hanya ditentukan oleh selera artistik penyelenggara.

Dalam proposal kegiatan Binal, tertuliskan bahwa seni sebagai sebuah hasil karya yang otentik, tidak dapat terus menerus ditentukan oleh “estetika yang melembaga” dengan melahirkan karya–karya patuh atau menghasilkan karya–karya stereotipe. Dunia seni rupa Yogyakarta, dipandang makin cenderung menjadi mapan dan seremonial serta kehilangan dinamikanya. Dari proposal itu, konsep ini sama sekali bertolak belakang dengan Bienalle.

Jika Bienalle menggunakan tempat resmi seperti pusat pusat kesenian, pameran Binal dapat di mana saja: di jalan, di pasar, kampung, rumah keluarga atau alam terbuka. Tempat pameran Bienalle yang terpusat di satu tempat bagi Binal ditandingi dengan menyebar karya di berbagai tempat pameran. Karya yang dipamerkan gerakkan Binal tidak hanya kerja individual namun juga kerja tim dan tidak terbatas pada bidang dua dimensi, dan enempatkan diri pada proses dan mempunyai semangat eksperimental.

Akibat gerakan tandingan ini, Biennale mengadakan evaluasi dan pengubahan besar-besaran. Termasuk terjadinya pergeseran nama “Biennale Seni Lukis” menjadi “Biennale Seni Rupa” dalam lingkup pengertian yang lebih luas. Bienalle selanjutnya tak hanya memamerkan karya lukisan namun juga karya instalasi secara outdoor lalu meluas tidak hanya di dalam ruang pamer.

1997

Komik asing yang sudah merajai industri perbukuan Jogja sejak 1980-an membesar di tahun 90-an. Pada 1997, tokoh-tokoh seperti Bambang Witjaksono, Samuel Indratma, Arie Dyanto, Popok Tri Wahyudi,Syahrizal Pahlevi, Sekar Jatiningrum, Iwan Wijono, dan Kipli membuat gerakan perlawanan dengan mengedepankan elkpresionis pembaca. Mereka menamakan diri Komunitas Apotik Komik.

Komunitas ini menolak wacana, tampilan karakter komik, medium, sampai pola distribusi. Mereka juga menolak bekerjasama dengan penerbit komersil. Komik dibuat dengan interaktif: tanpa banyak teks sehingga cerita menjadi sepenuhnya milik pembaca. Medium yang digunakan juga tak melulu kertas. Mereka menggunakan kardus, tripleks, dan juga grafitti. Komunitas Apotik Komik ini didirikan pada tahun 1997 di kampus ISI Jogja.

1998

Masa awal Reformasi 1998, tepatnya 21 Desember 1998 berdiri organiasi yang berbentuk lembaga kebudayaan berasas demokrasi kerakyatan: Taring Padi. Visi Taring Padi cukup jelas, yaitu seni untuk rakyat.

Dalam mukadimahnya dituliskan bahwa Taring Padi berupaya mengembangkan seni dan budaya dengan menggali kebutuhan dan keinginan masyarakat. Mereka mengutamakan: keterbukaan, kesejahteraan sosial, kedaulatan rakyat, keadilan antar generasi, demokrasi, penghargaan atas hak azasi manusia tanpa mengesampingkan kewajiban, perspektif gender, reformasi hubungan global serta pengelolaan lingkungan hidup yang baik.

 

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info