Menikmati lukisan Dipo Andy di Art Jog (Foto: Dokumen Dipo)

Peristiwa Penting Seni Rupa Jogja 1940-1960-an

Oleh Jatu Raya,

Berikut ini rentetan peristiwa penting Seni Rupa Jogja yang terjadi setelah kemerdekaan hingga Orde Lama.

BERITA JOGJA –  Predikat Jogja sebagai Kota Budaya tidak lahir sesar. Banyak peristiwa bersejarah yang memperkuat lalu menebalkan predikat itu ke tengah masyarakat. Di dunia seni rupa contohnya, beragam konflik dalam rentetean peristiwa menjadi kisah melegenda yang tak hanya mengabadi di Jogja namun juga memengaruhi pakem seni rupa Indonesua.

Rakal Badrika dalam Membaca Arsip, Membongkar Serpihan Friksi, Ideologi Kontestasi: Seni Rupa Jogja 1990-2010 mengrasipkan rentetan peristiwa penting itu. Berikut ini rentetan peristiwa penting Seni Rupa Jogja yang terjadi 1940-1960-an.

Lukisan Affandi

seorang pengunjung tengah mengabadikan salah satu lukisan Affandi di musem @Lippo Plaza. (Foto: Setio N)

1947

Usai kemerdekaan Indonesia, dunia seni rupa Jogja mulai bergolak. Ditandai dengan berdirinya Pelukis Rakjat (PR) oleh Hendra Gunawan, yang menganut seni kerakyatan. Aliran yang dibawa murid Wahdi Sumanta dan Affandi ini dekat dengan aliran Realisme Sosial atau Modern sebagai antitesis Mooi Indie yang menekankan keindahan pada era itu.

Munculnya PR membuat Mooi Indie tak lagi menjadi satu-satunya pilihan alir lukis di Jogja. Terjadi “pertarungan” seniman garda depan Seni Lukis Modern Indonesia dengan Mooi Indie yang diwakili antara lain Soedjojono, Hendra, Affandi, dan beberapa pelukis Jogja lainnya mewakili dengan Raden Saleh dan Abdullah SR yang mewakili Mooi Indie.

1958

Era ini adalah tahun di mana pembangunan besar-besaran dilakukan Presiden Soekarno. Tiap bangunan adalah penanda citra bahwa setelah kemerdekaan Indonesia adalah negara mandiri. Arsitek bangunan adalah pilihan Soekarno sendiri. Pembangunan citra melalui dunia seni juga tak dilupakan. Salah satunya adalah patung Selamat Datang setinggi 9 meter.

Patung ini dibuat perupa Jogja Edhi Sunarso. Dibuat dengan teknik pengecoran, Edhi mengejutkan banyak orang ketika membuatnya dari perunggu. Apa yang dilakukannya keluar dari kebiasaan di mana patung hanya dibuat dari batu saja. Namun dobrakannya ini menjadi tonggak awal seni perunggu di Indonesia.

1959

Seni itu harus dekat dengan masyarakat. Mereka adalah kesatuan yang saling memengaruhi satu sama lain. Demikian benak perupa sekaligus dramwan, Kirjomulyo, lewat Sanggar Bambu yang didirikannya pada 1 April 1959. Berkegiatan di rumah Heru Sutopo, Sanggar Bambu mendekatkan seni dengan masyarakat dengan cara mengunjungi berbagai kota di kabupaten secara bergilir. Dalam kunjunganya Sanggar Bambu membawa seni rupa, musik, teater, sastra dan tari. Dalam kurun 10 tahun sudah ada 40 kota yang dikunjungi.

Pada mulanya, Sanggar Bambu didirikan untuk meledek perupa Soenarto Pr di sebuah kandang gajah, di Alun Alun Kidul yang pada masa itu kerap menjadi markas Teater Indonesia pimpinan Kirjomulyo. Mendengar ledekan itu, lantas Heru Sutopo menawarkan rumahnya sebagai tempat lahir dan tumbuhnya Sanggar Bambu.

1961

Sejak didirikan Juni 1961 di sebuah warung makan sederhana di Pasar Gamping, Sanggar Bumi Tarung (SBT) punya misi seni menyejahterakan masyarakat. Misi itu dipresentasikan lewat strategi Turba: turun ke bawah, masuk ke tengah masyarakat dan permasalahan mereka bermetode sama makan, sama kerja, untuk kemudian menyadarkan, mengorganisir, dan memecahkan masalah-masalah yang ada di masyarakat.

Aktivitas ini hampir mirip dengan yang dilakukan Sanggar Bambu Kirjomulyo. Kuslan Budiman, Djoko Pekik, Sutopo, Adrianus Gumelar, Sabri Djamal, Suharjiyo Pujanadi, Harmani, Haryatno adalah tokoh-tokoh yang menggerakkan sanggar ini.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info