Komunitas Jogja Nyah nyoh menandai jalan berlubang dengan pilox putih (Foto: Cahyo)

Cari Selamat Bareng Jogja Nyah Nyoh

Berdiri sejak Februari 2016, komunitas gerak sosial ini rutin menambal dan menandai dengan pilox putih jalan-jalan berlubang.

BERITA JOGJA – Jika pengendara di Jogja banyak menemui jalan berlubang yang ditandai dengan wana pilox putih, berterima kasihlah pada Komunitas Jogja Nyah Nyoh. Berdiri sejak Februari 2016, komunitas gerak sosial ini rutin menambal dan menandai dengan pilox putih jalan-jalan berlubang.

Bagi mereka,jalan berlubang itu musuh bersama bagi para pengendara. Kesadaran itu yang bikin mereka rela tak dibayar berkeliling kota lalu menandai jalan berlubang agar tak mencelakaan. Pilox putih yang ditandai pada jalan berlubang selain untuk memeringatkan para pengguna jalan juga untuk memberi tanda kepada pemerintah bahwa ada jalan yang berlubang. Harapannya, sambung Adit, bisa direspon oleh pemerintah dan segera diperbaiki pihak terkait.

Komunitas Jogja Nyah nyoh menandai jalan berlubang dengan pilox putih (Foto: Cahyo)

Komunitas Jogja Nyah nyoh menandai jalan berlubang dengan pilox putih (Foto: Cahyo)

Mereka juga kerap menambal jalan berlubang. Kesadaran yang tampaknya tak pernah terpikir oleh dinas terkait. “Ini kegiatan rutin yang kami lakukan. Menambal jalan berlubang. Kami mencoba menambal jalan dengan semen. Harapannya supaya tak ada lagi korban. Kami sadar bahwa apa yang kami lakukan ini tak akan menambal jalan secara permanen. Tapi minimal kami sudah mencoba mengurangi kecelakaan karena jalan berlubang,”kisah Arditya Eka Sunu.

Adit menambahkan bahwa dana yang digunakan untuk menambal jalan berlubang dengan semen semuanya merupakan hasil urunan dari anggota Jogja Nyah Nyoh. Setiap anggota menyisihkan seribu rupiah seharinya untuk urunan membeli pasir, semen dan pilox. Untuk menentukan lokasi jalan berlubang yang akan ditambal biasanya berdasarkan informasi dari teman-teman anggota Jogja Nyah Nyoh.

“Dulu karena banyaknya jalan berlubang, bisa seminggu sampai tiga kali. Biasanya kita mulai kegiatan jam 21.00 WIB. Kalau pas besoknya hari libur, bisa sampai subuh kami menambal jalan berlubang tetapi jika pas besoknya hari aktif, kita batasi jamnya,” sambungnya.

Adit sendiri jadi inisiator gerakan ini. Nama “Nyah nyoh” diambil dari Bahasa Jawa. Artinya ikhlas memberi tanpa mengharap ada balasan. Lewat gerakan ini mereka ingin membangkitkan lagi budaya gotong royong. “Kami juga ingin mengajak masyarakat untuk kembali peduli pada lingkungan sekitar. Jangan terlalu lama kecuekan dibiarkan,” ajaknya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info