Pagelaran Dongeng Jogja: Alunan Penyemai Kebaikan

"Saya pernah suatu kali mendongeng di Karimunjawa, saya tanya cita-citanya apa. Ada satu anak menjawab pengen jadi koruptor," kisah Rona Mentari.

BERITA JOGJA – Dengan tergopoh, Rona Mentari berjalan menjauhi panggung amphiteater. Salah satu pendiri Rumah Dongeng Mentari itu baru saja rampung mendongeng di depan ratusan pengunjung acara “Pagelaran Dongeng Jogja”. Acara yang diadakan di Hutan Pinus Sari, Mangunan, Imogiri (26/11) lalu ini mengangkat tema alunan dongeng menyemai kejujuran.

“Saya pernah suatu kali mendongeng di Karimunjawa, saya tanya cita-citanya apa. Ada satu anak menjawab pengen jadi koruptor”, jawabnya dengan sedikit tersengal kelelahan. “Dan itu beneran”, ia menegaskan.

Aksi Rona Mentari (Foto: Haris Prasetya)

Aksi Rona Mentari (Foto: Haris Prasetya)

Fragmen anak kecil yang berkeinginan menjadi koruptor itu menyadarkan Rona bahwa korupsi adalah salah satu dampak panjang permasalahan bangsa Indonesia. Penggambaran koruptor di televisi sebagai orang yang memiliki banyak mobil, harta melimpah, dan tersenyum-senyum, terpatri kuat dalam memori anak-anak kecil. Rona dan kawan-kawan sadar, anak-anak tak bisa disalahkan.

Berangkat dari kesadaran tersebut Rumah Dongeng Mentari berkolaborasi dengan beberapa komunitas seperti www.dongeng.tv, Ayo Dongeng Indonesia, Forum Indonesia Muda sepakat mengangkat tema kejujuran melalui media dongeng.

Menurut Rona, dongeng sebagai budaya tutur yang mendarah daging dalam masyarakat Indonesia masih menjadi cara efektif untuk mendidik anak-anak. “Melalui dongeng, anak-anak tidak akan merasa digurui padahal kita sedang menanamkan nilai-nilai kebaikan”, Rona menjelaskan.

“Pagelaran Dongeng Jogja” merupakan acara lanjutan dari Sayembara Pendongeng Cilik, Minggu (20/11). Dalam acara kali ini beberapa pendongeng seperti Sekar Sari, Kak Iwan “Gepruk”, Kak Elis Cetta, Kak Hendra Bawole bergantian mendongeng di depan pengunjung acara yang sebagian besar adalah anak-anak Sekolah Dasar.

Suasana panggung amphiteater yang tadinya riuh uusai penampilan Rona jadi sedikit senyap. Di barisan depan, anak-anak SD Sukorame berseragam coklat tanah nampak khusyuk memperhatikan Ki Ledjar Subroto yang sedang mengawali kisah “Air Susu Dibalas dengan Air Tuba”. Ki Ledjar terbatuk kecil sambil berucap “disimak saja ya maklum simbah itu sudah tua, sudah kempis-kempis”, seketika suasana mencair.

Ki Ledjar Subroto saat mendongeng di depan ratusan penonton (Foto: Haris Prasetya)

Ki Ledjar Subroto saat mendongeng di depan ratusan penonton (Foto: Haris Prasetya)

Kali ini dalang Wayang Kancil berusia 78 tahun itu menceritakan kecerdikan kancil menolong kerbau yang hendak dimangsa buaya. Bermula ketika kerbau menyelamatkan buaya yang tertimpa pohon dan menggendong buaya menyeberangi sungai, alih-alih berterima kasih, buaya malah akan menjadikan kerbau sebagai santapannya. Tak lupa, melaui kisah tersebut, Ki Ledjar juga menyisipkan pesan untuk menjaga lingkungan. “Jangan suka buang sampah sembarangan di sungai, niatnya mengatasi masalah malah menambah masalah baru” tuturnya.

Di acara ini, dongeng tak hanya dituturkan lewat wayang namun juga pantomim. Duet Ende Riza dan Mikro si pantomim cilik berhasil membuat pengunjung tertawa terbahak-bahak. Membawakan kisah tentang Mbok Rondo Dadapan dan 2 putrinya yaitu Bawang Putih dan Bawang Merah, mereka tak lupa berpesan kepada para sahabat cilik untuk menanamkan sikap STMJ; Semangat, Mandiri, Totalitas, dan Jujur. Setelah semua pendongeng menyampaikan dongeng mereka, sesi berlanjut dengan kelas dongeng interaktif bersama Ibu Lusi Wes dan Kak Arif Rahmanto, yang merupakan sesi penutup “Pagelaran Dongeng Jogja”.

Acara ini diharapkan dapat menyemai nilai-nilai kebaikan pada diri anak-anak. “Kita di sini menanamkan karakter yang baik kepada anak melalui dongeng”, kata Ayu Purbasari, salah satu pendiri Rumah Dongeng Mentari.

Rheisnayu Cyntara

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info