Konser Badai Pasti Berlalu: Kembalinya Musik Indonesia yang Berkualitas

Para musisi legendaris bakal membawa penonton ke era 70-an di mana getir harus disikapi dengan gagah.

BERITA JOGJA – Musik pop berlirik bahasa Indonesia pernah menemui masa suram tahun 1970-an. Najis, kata orang gedongan saat itu mendengarkan musik-musik berlirik bahasa Indonesia yang dibuat para musisi. Maklum, pop saat itu dianggap sebagai musik kelas teri dibanding Rock, Psychedelic, atau yang lainnya. Di tengah situasi pelik itu, tiba-tiba muncul sebuah album garapan para seniman gila.A

Tahun 1977 dari arah Pegangsaan Barat, Jakarta, Eros Djarot bersama Yockie Suryoparogo, Chrisye, dan kawan-kawan lain menelurkan “Badai Pasti Berlalu” yang liriknya berbahasa Indonesia. Berisi 13 track, lagu seperti “Pelangi” dan Merpati Putih” yang dinyanyikan Chrisye sukses mengubah pandangan anak muda. Lagu-lagunya pun dinyanyikan anak muda. Gadis SMA yang turut direkrut Eross Djarot, Berlian Hutauruk, juga membius industri musik dengan “Badai Pasti Berlalu”.

Berlian Hutauruk, pelantun Badai Pasti Berlalu yang fenomenal (Foto: Cahyo)

Berlian Hutauruk, pelantun Badai Pasti Berlalu yang fenomenal (Foto: Cahyo)

Musik yang dimainkan Yockie dalam album itu tak kalah fenomenal. Musik-musiknya sangat orkestral. Sound kibor menuntut pendengar ke ruang imajinasi dengan anggun sekaligus tegas meminta pendengar pasrah menikmati.

Tak heran jika Alm. Denni Sakrie memberikan julukan album itu sebagai martir lagu pop Indonesia. “Badai Pasti Berlalu” jadi album yang memberikan pandangan berbeda terhadap musik indonesia sekaligus jadi pintu masuk lagu Pop yang mulai bingar menahun setelahnya.

Atmosfer selama hampir 40 tahun lalu itu bakal kembali tersaji di Grand Pacific Jogja, Minggu (6/11) malam nanti. Yockie bersama Eross Djarot akan kembali menyajikan lagu-lagu legendaris dalam album bersama Berlian Hutauruk, Keenan Nasution, Debby Nasution, Dian Pramana Putra, dan lain sebagainya.

Poster Konser Badai Pasti Berlalu (Dok Fisipol UGM)

Poster Konser Badai Pasti Berlalu (Dok Fisipol UGM)

“Memang waktu 77 itu bisa dibilang jadi album pergerakkan karena pendengar musik enggak ada yang mau dengar lagu Indonesia. Sekarang, kami membawa semangat perubahan itu lagi ke tengah masyarakat yang mungkin lagi binggung mau dengar apa sekarang. Kami membawa nuansa musik yang dibuat tahun 70-an itu untuk para musisi juga, bagaimana mereka melihat musisi tahun 70-an yang masih bertahan hingga sekarang karena membuat lagu yang serius dan tidak memikirkan uang,” kata Yockie panjang lebar.

Di penampilannya besok malam, Yockie bersama teman-teman “Badai Pasti Berlalu” benar-benar akan membawa nuansa tahun 70-an ke depan penonton. Ia akan membawa sound memabukkan dan lirik patah hati gagah yang sukses mengubah pandangan anak muda 40 tahun lalu itu ke masa kini.

“Ngapain harus mengaransemen ulang, mending bikin lagu baru. Kami ingin menunjukkan begini lah musik yang berkualitas dan bisa didengarkan sampai puluhan tahun,” katanya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info