PBSI UNY dan Teater Sanji Pentas Kolaborasi

Oleh Jatu Raya,

Pentas ini bertujuan menyapa masyarakat akan pentingnya nilai-nilai kebersamaan dalam menjalani proses hidup, mengingat dewasa ini nilai-nilai itu makin menipis kadarnya

BERITA JOGJA – Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) bekerjsama dengan Teater Sanji bakal bikin gebrakkan asyik di ujung November 2016 nanti. Keduanya mesra membuat pentas kolaborasi dan apresiasi seni: Pentas Teater Sanji dan Shalawat Syair Tanpa Waton di Kampus UNY mulai 30 November-1 Desember 2016 mendatang.

Naskah Syair Tanpa Waton sendiri fenomenal di kalangan masyarakat islam tradisional. Syair unik bertema toleransi yang peka zaman ini akan dibawakan dengan konteks kebangsaan. Ada misi khusus yang dibawa PBSI UNY dan Teater Sanji ketika memilih syair ini untuk dipentaskan.

Salah satu pentas teater di FBS UNY (Dokumen Nur Wahyu Hida)

Salah satu pentas teater di FBS UNY (Dokumen Nur Wahyu Hida)

“Pentas ini bertujuan menyapa masyarakat akan pentingnya nilai-nilai kebersamaan dalam menjalani proses hidup, mengingat dewasa ini nilai-nilai itu makin menipis kadarnya. Kami berharap pentas nanti juga menjadi ruang apreasiasi untuk berdialog dan bertukar nalar sehingga menjadi rahmatan lil alamin,” jelas Dr. Else Liliani selaku Ketua Panitia.

Pentas teater Sanji akan diiringi dengan alunan musik syair “Shalawat Tanpa Waton” yang syahdu ketika para aktor dan aktris akan bicara kematian di atas panggung. Lima tokoh: Basirah, Mardikun, Harsa, Kanti, dan Kiat dikisahkan masuk ke gerbang kematian dan bertemu malaikat. Sang Malaikat membisiki mereka kalau hidup mereka hanya tersisa 30 menit.

Manusia lahir tidak lain untuk mempersiapkan kematian menuju yang Transeden (Tuhan) kata Heidegger. Abdul Qadir Al-Jailani lebih panjang lagi ketika membincang kematian. Kematian itu harus ikhlas, maka karena itu matilah sebelum kau mati, matilah engkau dari dirimu dan makhluk, tinggalkanlah persekutuan dengan mereka dan berharaplah hanya pada Allah.

Demikian yang lamban terpikirkan oleh lima tokoh. Mereka merasa melakukan kebaikan sebelum mati sebagai sangu pertangungjawaban pada Allah. Panggung pun diramaikan dengan mereka yang menyebar kebaikan selama 30 menit sebelum ajal. Sayang, musuh besar manusia: waktu, datang dengan bengis. Satu per satu tumbang, sepi, sendiri, lalu sunyi.

“Ini semacam pengingat bahwa berbuat baiklah dengan ikhlas bersama-sama selagi hidup, ikhlas demi Allah semata,” sambung Else.

Sebelum menyaksikan pentas kolaborasi, bakal ada juga workshop teater tanggal 29 November di Lab, Karawitan FBS UNY mulai jam sembilan pagi hingga selesai.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info