Menangkap Persoalan Lingkungan dengan Sastra

Oleh azkamaula,

Selama tiga hari di FBS UNY, ratusan peserta menikmati karya sastra dan sajian presentasi makalah bertema lingkungan.

BERITA JOGJA – Sastra adalah media terluwes yang mampu menangkap lalu mengurung fenomena, peristiwa, sampai gejala dengan suka-suka. Teks dengan kumpulan kata lalu kalimat merupakan nampan penyaji realitas yang bisa memengaruhi realitas lanjutan. Simak realisme magis Garcia Marquez sampai karya Octavio Paz yang mampu merevolusi Amerika Selatan.

Tak heran jika sastra kini benar-benar dimanfaatkan menjadi nampan penyaji realitas, entah dalam bungkusan duyun semantik maupun kerutan semiotik. Demikian pula yang terjadi di Fakultas Bahasa dan Senin (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 13-15 Oktober 2016 lalu. Ratusan pecinta sastra, akademisi, pakar, dan lembaga berkumpul dalam kegiatan The 3rd International Conference on Literature (ICOLITE) yang terlaksana atas kerjasama antara HISKI Komisariat UNY dengan FBS.
“Konferensi bertema ‘Sastra untuk Bumi’ ini diikuti 200 peserta dari kalangan dosen, peneliti, sastrawan,  dan pemerhati sastra dari Indonesia dan beberapa negara, antara lain Thailand, India, Malaysia, Australia, Amerika. Selain itu, konferensi ini juga menampilkan para pemakalah pendamping yang berasal dari berbagai Universitas dan lembaga penelitian bahasa dan sastra sebanyak 71 lembaga, dengan 164 makalah yang akan dipresentasikan,” papar Alice Armini M.Hum, Ketua Panitia Kon

Dekan FBS, Dr.Widyastuti (kiri) bersama Prof.Dr.Suminto (tengah), dan Rektor UNY Prof.Dr.Rochmat Wahab M.Pd, MA berfoto bersama (Foto: Else Liliani)

Dekan FBS, Dr.Widyastuti (kiri) bersama Prof.Dr.Suminto (tengah), dan Rektor UNY Prof.Dr.Rochmat Wahab M.Pd, MA berfoto bersama (Foto: Else Liliani)

Selama tiga hari di FBS UNY, ratusan peserta menikmati karya sastra dan sajian presentasi makalah bertema lingkungan saat ini. Konferensi dibuka oleh penulis puisi asal Korea Selatan, Moon Chung Hee yang memaparkan proses kreatif penulisan puisi lewat esai “Woman, Life, Love”. Dibaginya pengalaman penulis kumpulan puisi “Woman of Terrace” ini cukup menggetarkan konferensi setelah ia buka-bukaan tentang pengalamannya mendapatkan ide dalam menyajikan realitas di negara asalnya. Selanjutnya giliran penulis Dra. Naning Pranoto yang menyajikan karya “Memperkenalkan Para Petani Pelestari Bumi: Menulis, Menanam, dan Mengonsumsi Makanan Natural”.  Naning kembali beraksi bersama Yeni Rachmawati dan Fani Idris dengan monologi mereka di di depan ratusan peserta. Gelaran hari pertama ditutup Rakernas HISKI pusat.

Hari kedua, penuh agenda dari akademisi dan pakar yang memaparkan presentasi bagaimana sastra mampu menangkap realitas lingkungan saat ini. Salah satu pembicara adalah Prof.Dr.Suminto A Sayuti yang menyajikan presentasi mengejutkan. Sastra, tegas akademisi yang jago mendalang itu sudah digunakan untuk mengajarkan masyarakat untuk merawat bumi sejak zaman kerajaan kuno. “Lakon Mikukuhan” salah satu contoh konkretnya.

“Itu adalah lakon sastra wayang yang sangat populer di kalangan masyarakat agraris. Pada masanya lakon tersebut digelar dalam rangkaian upacara ruwat bumi. Sastra wayang semacam itu jadi kolektif ingatan mereka untuk selalu menunaikan imperatif utama sebagai petani yaitu merawat bumi, karena bumi adalah sumber kehidupan,” papar Suminto dalam esai “Sastra yang Merawat Bumi”.

Makalah yang dihadirkan para peserta sama-sama berbobot dan mengangkat soal isu lingkungan kekinian dalam gelaran rapat paralel. Ada Maria Batildis Banda dengan makalah “Masyarakat Nelayan Ikan Paus dalam Pembelajaran Sastra Berbasis Lingkungan”, Mursalim lewat “Pembelajaran Sastra Anak Berdasarkan Konteks Lingkungan”, Juanda yang gagah menyampaikan “Isu-isu lingkungan dalam Kebijakan Bahasa Indonesia”, atau Kinayato Djojosuroto lewat “Merangkul Alam Melalui Ekosastra dan Implikasinya dalam Pembelajaran Ekologi”.

Adapun konferensi ini terselenggara atas kerjasama FBS UNY, Hiski Komisariat UNY, dan HISKI Pusat. Dalam konteks HISKI, Konferensi ini merupakan pertemuan ilmiah berkala. Pada tahun 2016 merupakan konferensi HIKSI ke-25. Sedangkan dalam konteks FBS UNY, konferensi ini merupakan  Konferensi Internasional Kesusastraan ke-3. “Kami memilih penyelengaraan konferensi ini di kampus kami, Fakultas Bahasa dan Seni UNY, bukan di hotel yang mewah, karena kami ingin lebih menghayati konferensi ini, yang berangkai dengan acara peluncuran buku, monolog, dan baca puisi, serta pertujukan kesenian di rumah sendiri,” sambung Armini.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info