Mohammad Sobary Rekam Perlawanan Petani Tembakau Temanggung

Tidak ada yang disampaikan melampaui apa yang disajikan dalam fakta-fakta di lapangan.

BERITA JOGJA – Perlawanan petani tembakau di Temanggung yang bergaung sejak 2012 lalu menyita banyak perhatian akademisi maupun pengamat sosial. Satu di antaranya, yang kemudian sukses merekam dengan jelas bentuk dan gerakkan perlawanan itu adalah Mohammad Sobary. Pertama-tama ia merekamnya dalam desertasi bertajuk “Perlawanan Politik dan Puitik (Ekspresi Politik Petani Temanggung) di Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UI.

Desertasinya mendapat predikat sangat memuaskan saat disajikan di depan penguji Februari lalu. Pujian pun datang dari dua penguji: Fentiny Nugroho MA, PhD dan Prof.Dr.Gumilar Rusliwa Soemantri.

Tampaknya Sobary tidak puas merekamnya hanya dengan desertasi. Ia pun membukukan perlawanan para petani Temanggung itu dan meluncurkannya di empat kota: Bandung, Jakarta, Solo, dan Jogja. Peluncuran buku yang dilanjutkan di Jogja digelar Senin (26/9) pagi tadi di UC UGM dan dihadiri ratusan peserta. Lagi-lagi, rekam jejak peristiwa perlawanan itu mendapat pujian dari dua narasumber garang yang sudah biasa membedah buku: Hairus Salim dan Saleh Abdullah.

Saleh misalnya. Salah satu pendiri Insist Press ini menilai buku Sobary menceritakan rinci bagaimana ditindasnya petani saat pemerintah menerbitkan PP No.109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Saleh juga melihat Sobary tidak luput ketika dampaknya merembet ke industri kecil lainnya seperti asbak.

Peluncuran Buku Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung (Foto: Cahyo PE)

Peluncuran Buku Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung (Foto: Cahyo PE)

Sedangkan Hairus Salim, masih seperti biasanya. Ia dengan tenang mengupas buku milik Sobary ini dengan rinci. Pertama-tama ia mengupas metode penulisan Sobary yang laiknya novel. Menurutnya, apa yang dilakukan Sobary sebaiknya juga dilakukan akademisi lainnya dalam membuat desertasi atau tulisan yang berdasar dari sudut pandang antropologi. Di depan ratusan peserta, Hairus Salim menolak keras anggapan bahwa buku setebal 350 halaman ini subyektif.

“Kepenulisan ilmiah Antropologi memang seharusnya begini (seperti buku Mohammad Sobary) yang retoris dan bercerita. Jadi membaca buku yang juga desertasinya ini laiknya membaca novel dan seharusnya memang seperti inilah penceritaan hasil pengamatan di lapangan dari dunia antropologi diceritakan,” puji Hairus.

Bukan Hairus Salim namanya kalau meninggalkan kupasan buku tanpa kritik membangun. Ada satu pertanyaan yang mengganggunya ketika menyelesaikan membaca buku cetakan Kepusatakaan Populer Gramedia ini. “Sayangnya satu, dalam buku ini Mohamad Sobbary tidak menuliskan bagaimana konflik yang terjadi antarpetani, antarpetani buruh dengan mandor, atau hubungan mereka dengan pemerintah setempat. Itu saja menurut saya yang harusnya juga turut dipaparkan,” sambungnya.

Buku Mohammad Sobary (Foto: Istimewa)

Buku Mohammad Sobary (Foto: Istimewa)

Fakta yang dihadirkan dalam buku ini adalah gambaran perebutan kuasa melalui kendaraan masing-masing. Pemerintah berkendara PP untuk menguasai hajat hidup petani. Sementara para petani melakukan perlawanan kuasa dengan perwujudan aksi puitik:ekspresi tari, berkidung di atas panggung kesenian, dan khidmatnya mantra dharma jadi kendaraan yang memuat nilai-nilai perlawanan terhadap penindasan.

“Tidak ada yang disampaikan melampaui apa yang disajikan dalam fakta-fakta di lapangan. Keterancaman itu melahirkan perlawanan petani. Perlawanan itu dilakukan lewat aksi puitik. Puitik di sini tidak sebatas dalam wujud puisi. Tapi dengan berbagai wujud seperti tari, ritual penyalaan dupa, persembahan warna warni bunga,” beber Sobary.

Para peserta diskusi pun terlibat aktif dalam tanya jawab dengan penulis dan Hairus Salim dan Saleh Abdullah yang dihadirkan sebagai pembedah buku. 50 peserta pun mendapatkan buku gratis dari penulis.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info