Ilustrasi lipstik (Dok.Istimewa)

Bahasa Prokem Lampu Merah Jogja

Di kalangan pencopet waktu itu juga muncul istilah balung untuk teman seprofesi, kucing untuk polisi dan macan untuk tentara

BERITA JOGJA – Orde Baru (Orba) adalah rezim traumatik. Orang-orang di dalamnya trauma akan ketidakteraturan dalam masyarakat yang sering sekali muncul saat Sukarno berkuasa. Kondisi itu melahirkan banyak pengekangan di masyarakat, salah satunya bahasa.

“Bahasa dan Pergeseran Kekuasaan: Politik Wacana Orde Baru” Virginia Mathesson membeberkan cara Orba dalam melakukan pengekangan ini. Bagi masyarakat yang tidak memakai bahasa baku, kasar, atau berkata jorok kerap dilabeli negatif. Di televisi dan surat kabar, Orba menggunakan istilah kaum puferistis, sarkastis, vulgarristis, sampai anak berandalan yang tidak mendukung pembangunan.

Ilustrasi protes (Dok Istimewa)

Ilustrasi protes (Dok Istimewa)

Mochtar Lubis lebih galak lagi. Dalam terminologinya, ia melihat pengekangan bahasa Orba sebagai penyempitan makna dan propaganda untuk menyembunyikan kenyataan sosial yang menyakitkan. Di Yogyakarta, terjadi perlawanan terhadap bahasa ‘santun’ yang kerap dicorongkan Orba.

Bromocorah, hombreng, atau lothek (lonthe thuwek) pernah tenar pada dekade 1980-an. Bahasa-bahasa ini lahir dari kawasan remang-remang. Dalam buku Urep Mung Mampir Ngguyu tulisan Sidik Jatmika, bahasa ini merupakan bahasa sandi yang subur di kawasan lampu merah. Bahkan, bahasa-bahasa seperti ini bertahan sampai sekarang.

Di kalangan pencopet waktu itu juga muncul istilah balung untuk teman seprofesi, kucing untuk polisi dan macan untuk tentara. Sandi ini digunakan bukan sekadar bahasa pergaulan sesama mereka yang hidup di jalan. Namun, bahasa ini juga berfungsi sebagai sarana menjaga kerahasiaan (kepentingan keamanan). Maklum karena hidup mereka berhadapan langsung dengan bahaya. Mulai dari penangkapan, penggarukan, sampai pembunuhan.

Dalam kerangka berpikir Orde Baru, orang-orang yang hidup dijalan ini dicap sebagai golongan yang urakan maupun tak tahu aturan. Namun, dalam cerpen Mochtar Lubis yang berjudul “Bromocorah”, secara laku orang yang di cap sebagai bromocorah ternyata sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Orang-orang ini lebih mengedepankan sikap jujur dan lebih suka membantu. Tetapi karena pemerintah telah menvonisnya sebagai penjahat, maka sampai sekarangpun masyarakat menganggap bromocorah sebagai orang jahat.

Di kalangan orang yang memiliki orientasi seks, muncul istilah hombreng (homo), lesbong (lesbian), ciblek (bocah cilik betah melek), pereks (perawan eksperimen), presto (perempuan suka tongkrongan), brondong (lelaki), BBS (Bobok-bobok siang), lotek (lonthe thuwek), lonpia (lonthe prawawan belia), dan lain-lain. Termasuk di dalamnya istilah brownis (brondong manis) yang semula dipakai di kalangan waria maupung hombreng kemudian mengalami gejala bahasa amelioratif dan dipakai secara luas untuk menyebut remaja lelaki penjahat cinta.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

Site Info Site Info